Langsung ke konten utama

Postingan

Lebaran

Lebaran tahun ini , Kita tidak tau kematian akan menjemput kita kapan, karena syarat mati tidak harus tua!

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu

JANGAN jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain. Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas. Wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian. Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku. Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat. Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menjatu...

Sungguh, Bukan Aku Lupa Ulang Tahunmu

MAAFKAN. Bukan tak ingin mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Semata-mata karena ini bukan ajaran akidah kita. Nabi kita tak pernah merayakan ulang tahun. Tak mendoakan teman yang ulang tahun. Tak jua menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Tak meniup lilin kue ulang tahun. Tak mentraktir teman-temannya saat ulang tahun atau ritual-ritual lainnya ketika ulang tahun. Apa beliau tak mampu lakukan itu semua itu? Atau Allah ta’ala lupa memberitahukan pada Nabi-Nya? Tidak! Sebab, semua ini ciri khas orang-orang kuffar. Orang-orang shaalih terdahulu telah menyelisihinya. Dan, tahukah kamu bahwa pada masa Herodeslah acara ulang tahun dimeriahkan? Seperti yang tertulis dalam Injil Matius 14:6 dan Injil Markus 6:21 Jadi, apa iya kita mau mengikuti tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum paganism? Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mere...

Aku Malu Dipanggil Aktivis

Aku malu saat mereka memanggilku dengan sebutan “aktivis dakwah” Karena bisa jadi amal baik mereka lebih banyak dari amalku Bisa jadi  keikhlasan mereka lebih mendalam daripada diriku Bisa jadi kedudukan mereka di mata Allah Swt. lebih tinggi dariku... Aku merasa tidak pantas, Sering ku beralasan belum sempat serius memperbaiki bacaan Al-Qur’an ku yang masih terbata-bata(tartil), apalagi untuk menambah hafalan Seakan menjadi hal yang wajar jika mushaf Al-Qur’an kubiarkan bergeletak di atas meja atau sekadar memenuhi ruang ranselku untuk kubaca sesekali di “waktu luang” saja Mereka bilang aku “aktivis dakwah” supersibuk yang sering pulang larut malam karena agenda dakwah di sana-sini Sementara aku masih sempat membumbui rapat organisasi dengan candaan dan bahasan yang sebetulnya sama sekali tidak penting(just akhwat no ikhwan) Padahal... Ini bukan dakwah, ketika hanya terlibat di kegiatan dakwah tanpa berusaha membenahi diri menjadi lebih baik Ini bukan dakwah, ...

Bolehkah menyatakan kerinduan? Perasaan kepada seseorang?

*Saat hujan Berteriaklah di depan air terjun tinggi, berdebam suaranya memekakkan telinga agar tidak ada yang tahu kau sedang berteriak Berlarilah di tengah padang ilalang tinggi, pucuk2nya lebih tinggi dari kepala agar tidak ada yang tahu kau sedang berlari Termenunglah di tengah senyapnya pagi, yang kicau burung pun hilang entah kemana agar tidak ada yang tahu kau sedang termangu Dan, menangislah saat hujan, ketika air membasuh wajah agar tidak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan Perasaan adalah perasaan, Tidak kita bagikan dia tetap perasaan Tidak kita sampaikan, ceritakan, dia tetap perasaan Tidak berkurang satu helai pun nilainya Tidak hilang satu daun pun dari tangkainya Perasaan adalah perasaan, Hidup bersamanya bukan kemalangan, Hei, bukankah dia memberikan kesadaran betapa indahnya dunia ini? Hanya orang2 terbaiklah yang akan menerima kabar baik Hanya orang2 bersabarlah yang akan menerima hadiah indah Maka nasehat lama itu benar sekali, Menangislah...

“Pantaskan Dulu Dirimu Baru Pentaskan Ke Pelaminan”

 – Apakah masih ada laki-laki yang shaleh? - Apakah masih ada wanita yang shaleha zaman sekarang? - Saya ingin dapat suami atau istri yang shaleh/ha, mungkinkah? - Kenapa saya susah banget ketemu dengan jodoh impian saya. Ya, itulah pertanyaan yang sering terlontar diwaktu saya jomblo dulu, mungkin juga jadi pertanyaan besar bagi kamu, kekhawatiran yang sebenarnya biasa terjadi bagi yang galau dalam masa-masa penantiannya. Selain pertanyaan diatas ada juga pernyataan-pernyaatan pesimis seperti berikut :  – Kayaknya ga ada lagi laki-laki shaleh zaman sekarang. - Kayaknya ga ada lagi wanita shaleha hari ini. - Wah saya susah mau menikah, modalnya ga ada. - Ga ada uang, belum mapan. – Dll Sejatinya ungkapan-ungkapan diatas adalah sebuah realita kaum jomblo hari ini, dan juga tentu itu yang kami rasakan juga beberapa tahun lalu. Banyak diantara kita yang terlalu berfokus pada sesuatu dengan  SIAPA KITA MENIKAH , kita fokus pada orangnya, pada sia...

QUOTE

Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya. Imam Syafi’i "Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?  Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalah arti cinta, ketika menangis terluka atas perasaan yg seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yg seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun? Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”