Genarasi pertama yang dimaksud merupakan para sahabat. Sahabat merupakan orang yang bertemu Nabi, Muslim, dan mati sebagai muslim. Mengapa kita mengacu pada generasi pertama dalam mentarbiyah umat ?
🍃 Para sahabat tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang kuat dan matang dengan akar yang kokoh menghunjam ke dasarnya. Lihatlah, generasi ini mampu menguasai 2/3 dunia.
🍃 Apa sebenarnya prinsip-prinsip yang menjadi esensi pembinaan generasi ini?
🍃 Fondasi apa yang digunakan Sang Murobbi, yaitu Nabi Muhammad untuk membangun bangunan yang besar, mengagumkan dan mempunyai keteraturaturan luar biasa ini?
☘Sebelumnya kita harus tau manfaat mengetahui konsep Tarbiyah Nabawiyah ini. Khususnya bagi para pejuang Islam yang hendak mewujudkan masyarakat Islam yang Nyata.
1⃣Pertama, Untuk mengetahui Manhaj (Konsep) Islam dalam menegakkan daulah atau negara.
Sebab Manhaj pemikiran dan gerakan untuk menegakkan Islam tidak kalah penting dari manhaj kehidupan.
Keberlangsungan manhaj lebih diutamakan daripada eksitensi seribu orang muslim tapi berjalan diatas manhaj yang menyimpang.
Sebagaimana Din berasal dari Allah, cara-cara menegakkannya pun harus dari Allah
2⃣Kedua, Untuk mengikuti jalan rabbani dalam membela dinullah dan mengkokohkan syari’atNya dalam kehidupan.
Agama ini ibarat sebuah pohon yang akarnya menghujam ke dasar bumi dan cabangnya besar.
Apabila pohon itu besar, maka akar pohon tersebut harus betul-betul dalam agar dapat menopang besarnya pohon itu, Demikian akar agama “Laa Ilaha illallah” haruslah merupakan iman yang menancap iman dalam-dalam ke dasar hati sehingga dapat menopang pohon agama ini seluruhnya.
Karena itu, para Dai yang menyangka bahwa mengedepankan sistem ekonomi islam, sistem sosial menurut islam, sistem politik islam, atau sistem etika islam dapat membuat manusia menyukai islam lalu masuk islam, mereka tidak memahami tabi’at ini. Tidak pula mengetahui hakikat manhaj operasionalnya.
Kita mendakwahi orang bukan dengan membuat mereka tertarik pada persoalan furu’ dalam islam. Kita, semestinya mendakwahi mereka dengan menanamkan Aqidah kedalam hati mereka. Setelah Aqidah tertanam dihati, otomatis mereka akan mengerjakan segala tuntunannya. Adapun Jika kita mengajak mereka dalam perkara furu’ dengan aspek-aspek yang ada di dalam islam seperti misalnya; Shalat, wudhu, hak dan kewajiban kaum wanita, keadilan , muamalah, dan lain-lain, maka persoalan tersebut hanya akan sampai pada taraf “dibicarakan” saja. Dan setiap hari mereka akan mengajukan pertanyaan yang harus engkau jawab. Ketahuilah bukan seperti ini cara yang ditempuh islam pertama kalinya. Berusaha menarik manusia kepada Agama Allah dengan mengenalkan mereka kepada sistem ekonomi, sosial, politik sebelum mengenal “ Laa Illaha Ilallah” tak ubahnya seperti orang yang menebar bibit tanaman di udara menunggu bibit itu tumbuh menjadi pohon di udara.
3⃣Ketiga, Untuk mengetahui betapa mulianya sang Panglima sekaligus pembimbing yaitu Nabi Muhamad SAW yang telah mempraktikan dan berpegang teguh dengan manhaj tersebut.
Perkara yang sangat vital, seperti halnya berpegang teguh pada sistem islam pada setiap gerakannya. Tengoklah sejarah perkembangan tarbiyah Nabi dalam waktu relatif singkat, Rasulullah telah membidangi sebuah generasi yang terdiri dari pemimpin-pemimpin yang tiada duanya, Jumlah panglima-panglima yang digembelng tiada duanya hingga sekarang, dan memunculkan generasi pemimpin, politikus, administrator, pembimbing, pengajar, hakim dan penguasa. Oleh sebab itu, kepemimpinan dalam islam bersifat Rabbani , Manhaj Rabbani, sarananya Rabbani. Seperti dijelaskan pada Syekh Sayyid Qutuhb berkata,
“ Pemeluk agama ini harus benar-benar mengetahui bahwa agama ini dzatnya adalah rabbani, maka konsep operasionalnya juga Rabbani, berjalan paralel dengan tabiatnya. Dan tidak mungkin memisahkan agama ini dari konsep operasionalnya.”
PramudyaZeen Referensi: Dr. Abdullah Azzam.2004.Tarbiyah Jihadiyah.Solo. Jazera.
Komentar
Posting Komentar